Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ibu dan Kakak Perempuan Jadi Budak Seks Ku

   Tradingan.com - Sebelum membaca kisah ini aku sarankan para pembaca menyimak sedikit kisah dari ceritaku yang telah aku tulis sebelumnya yaitu “Sex Perdanaku 1 & 2” sehingga dapat mengerti isi kisah ini.

Waktu itu aku telah duduk di bangku SMP kelas dua dan berusia 14 tahun lebih. Aku memang telah menjadi seorang anak lelaki yang sangat tergila-gila dengan segala bentuk kegiatan yang ada hubungannya dengan sex bahkan aku bisa membuat sesuatu mengarah ke sekitar masalah sex.

Misalnya aku melihat suatu benda pasti aku langsung memikirkan bahwa seandainya benda itu dibuat begini atau begitu pasti bisa mengasyikan. Semenjak aku telah merasakan dan mengetahui bahwa perbuatan sex itu memang asyik dan nikmat aku terus memburu dan mencarinya.

Sebelum Ana dan Tari pindah dari lorongku aku sering melakukan pada mereka berdua. Dimana saja dan kapan saja yang penting aku mendapatkan waktu cocok pasti aku melakukannya, baik itu bersama Tari ataupun bersama Ana. (baca: “Sex Perdanaku 1 dan 2”). Tetapi mereka telah pindah bersama keluarganya masing-masing setamat dari Sekolah Dasar tetapi lokasi pindah mereka masih disekitar kotaku juga. Jaraknya kira-kira 15 kilometer dari tempat tinggalku.

Terpaksa aku harus mengatasi gejolak sexku dengan caraku sendiri, kadang aku masturbasi alias onani sambil menghayalkan kenikmatan yang aku dapatkan dari Ana dan Tari walaupun cara itu kurang nikmat aku rasakan dibanding bermain langsung dengan mereka ataupun orang lain. Ibarat orang bermain tinju kalau tidak ada lawannya kurang enak rasanya. Tetapi lama kelamaan aku bisa menikmatinya dengan penuh.

Hingga suatu saat aku mendapat kesempatan dimana kedua orang tuaku dan Kakak sepupuku bahkan tanteku kujadikan media untuk masturbasiku dan inilah yang aku akan tuturkan pada kisahku kali ini.

*****

Kejadian itu berawal pada suatu malam ketika aku terbangun karena merasakan ingin buang air kecil. Akupun bangun untuk kekamar mandi. Karena sudah terbangun aku jadi sulit untuk memejamkan mataku kembali yang memang sudah menjadi kebiasaanku apalagi jam di dinding kamarku waktu itu telah menunjukkan pukul 01.57 dini hari.

Sambil terus berusaha memejamkan mata agar dapat tidur kembali pikiranku mulai menerawang kemana-mana sambil memandang langit-langit kamar.Tetapi usaha itu kurang berhasil ditambah lagi pikiranku sudah mulai menghayalkan perbuatan-perbuatan sex yang pernah aku dapatkan dari Ana ataupun Tari.

“Sst.. ah.. ahh..”, aku mulai berdesis sambil mengelus-elus penisku yang mulai ereksi.

Tetapi perbuatanku itu aku lakukan secara perlahan karena takut kedua adikku terbangun yang memang sekamar denganku. Kamarku itu memang kami tempati bertiga, aku berada seranjang dengan adikku yang nomor tiga namanya Sony tetapi dia berada dibawahku karena kami berdua mengenakan ranjang bertingkat dua sedangkan satu ranjang lagi berada kira-kira satu meter disamping ranjang kami yang ditempati oleh adikku yang nomor dua bernama Rony, Umur mereka juga hanya beda-beda setahun dari umurku. Sambil terus berkhayal aku terus mengelus kepala penisku yang sudah mulai licin oleh air bening yang keluar dari senjataku itu.

“Ouh.. ah.. ah..”, desisku pelan.

Namun terdengar seperti ada desahan lain selain desahanku sendiri yang kadang-kadang desahan itu tiba-tiba menghilang.

“Oh.. ya.. yes..”, terdengar desahan-desahan itu secara samar-samar.

Akupun memasang telingaku untuk memastikan bahwa suara itu bukan suaraku, akupun diam sejenak dan ternyata benar kini aku tidak bersuara tetapi desahan itu tetap terdengar. Lalu aku bangun dan duduk untuk mencari dari mana asal suara itu. Sambil memasang kembali telingaku dengan sangat cermat. Kupandang setiap sudut ruangan kamarku dan pandanganku berhenti dipintu plafon kamarku dan sepertinya suara itu berasal dari situ.

Di kamarku memang ada semacam pintu untuk naik dan turun bila kita ingin naik ke atas plafon. Tempat tidurku memang berada dekat sekali dari pintu plafon itu karena ranjangku berada ditingkat yang kedua. Maka dengan mudah sekali aku membuka pintu plafon itu namun tetap dengan sangat perlahan karena takut menimbulkan suara yang dapat membangunkan kedua adikku.

“Yeah.. oh.. oh.. fuck me.. yes..”, suara itu semakin terdengar jelas ketika aku membuka pintu plafon dan suara itu sepertinya suara yang keluar dari sebuah TV.

Dugaanku langsung mengatakan bahwa suara itu berasal dari kamar Papa dan Mamaku sebab hanya di kamar itu yang mempunyai televisi selain televisi yang ada diruang tengah rumahku. Karena didorong rasa ingin tahu apa yang sedang ditonton oleh kedua orang tuaku, akhirnya aku nekad naik keatas plafon itu. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu bahwa mereka sedang memutar Film Blue atau BF, itu bisa aku pastikan dengan suara-suara desahan yang keluar dari televisi didalam kamar mereka.

Ketika aku sudah berada diatas aku belum bisa langsung menuju ke atas plafon kamar Papa dan Mamaku sebab mataku harus beradaptasi dari terang ke gelap. Setelah aku sudah dapat melihat akupun merangkak menuju kearah kamar kedua orang tuaku dengan sangat hati-hati sekali agar tidak menimbulkan suara sedikitpun apalagi suara yang bisa membangunkan seisi rumah.

“Fuck me.. oh.. yes.. yes..”, suara dari televisi itu semakin terdengar jelas, rupanya aku telah berada di atas kamar kedua orang tuaku.

“Jangan sekarang dong Mam.. habiskan dulu filmnya”, terdengar suara Papaku dengan sedikit berbisik, namun karena aku memang kini berada tepat diatas kamar mereka maka walaupun Mamaku berbisik aku bisa mendengarnya dengan jelas bahkan suara napas mereka yang memburu kadang terdengar di telingaku dari atas plafon itu.

“Sst.. oh.., ayolah Pap..”, kini suara Mamaku yang terdengar olehku dengan nada manja dan setengah merengek seperti memohon sesuatu dari Papaku.

“Sudah banjir ya Mam.., rasanya jari Papa basah semua nih..”, seru Papaku.

“He.. eh.. oh.. sst..”, hanya itu yang terdengar dari mulut Mamaku menjawab pertanyaan Papaku tadi.

Birahiku mulai bangkit menghayal dan membayangkan apa yang dimaksud dari pembicaraan Papa dan Mamaku ditambah lagi desahan-deshan kecil yang keluar dari mulut Mamaku bercampur dengan desahan-desahan yang keluar dari film yang mereka tonton. Kontolku sudah tegang tidak bisa ditahan lagi oleh celana karet yang aku pakai sehingga celana itu membentuk bukit kecil oleh desakan kontolku dari dalam. Baca selengkapnya!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia