Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Istri Minta Jatah Ngewe Anal 1

 Tradingan.com - Bandara Sam Ratulangi, Senin siang, 11.09 WITA

Jadwal keberangkatan Bahar ke Surabaya akan menjelang beberapa jam lagi. Kesibukan di Bandara belum begitu padat, hanya beberapa orang petugas porter yang tampak bergerombol di beberapa sudut kedatangan, merayu para calon penumpang untuk dibantu membawakan barang bawaan. Tapi tampaknya mereka tak berani mendekati kami. Barangkali mereka segan pada kami yang punya potongan tubuh lumayan gede ini. Apalagi saat itu, menurut Bahar aku kelihatan ‘sangar’ dengan kacamata rayban. Sedangkan Bahar tampak gagah dan agak ‘preman’ dengan setelan sportifnya: baju kotak-kotak plus blue jeans.


Bahar segera check in. Sementara aku mengurus barang bawaan yang akan dibagasikan. Ada dua kopor berukuran sedang dan satu travel bag yang dibawanya. Tanpa setahu dia, aku menyelipkan fotoku dan foto kami berdua di salah satu kantong yang ada di kopor pakaiannya.

Mungkin karena Bahar termasuk calon penumpang yang datang lebih awal, maka pelayanan bisa lebih singkat diselesaikan. Kebetulan aku diijinkan petugas bandara untuk masuk ke ruang tunggu. Mungkin karena hari ini sedang tidak terlalu banyak penumpang. Ruang tunggu pun terlihat masih sepi. Dan kami bisa bebas mau duduk di mana saja. Tapi Bahar mengajakku memilih kursi yang agak terpisah dari yang lain.

Untuk beberapa saat kami tak banyak bicara. Tenggelam dalam lamunan masing-masing dan sesekali memperhatikan kesibukan petugas bandara yang ada di landasan. Pesawat dari Ujung Pandang yang akan membawa Bahar ke Surabaya belum tampak terlihat.

Dia lalu mengeluarkan bungkus rokoknya, tapi aku mengingatkan larangan merokok di ruang tunggu ini. Disimpannya kembali bungkus rokok itu ke kantong bajunya. Nampak sekali dia sedang nervous. Kupegang tangannya. Dingin. Lalu tangannya membalas menggenggam tanganku. Menghela nafas dan mencoba tersenyum.

“Abang mau merokok? Ayo, aku antar keluar” kataku menawarkan. Tapi dia menggeleng dan malah mengembangkan senyuman tipis. Genggaman tangannya kurasakan makin erat.

Aku mencoba menenangkannya. Dia mengangguk-angguk dan mencoba tersenyum lagi. Tapi senyum itu kelihatan dipaksakan. Bahar menghela nafas.

“.. Barangkali saya terlalu berat untuk berjauhan dengan Mas Harso..,” kalimat terakhirnya terdengar agak lirih.



Kini tiba-tiba gantian aku yang senewen mendengar ucapannya itu. Mataku berkejap-kejap, agak panas. Terus terang, sebenarnya selama dua hari terakhir ini aku secara diam-diam terus memikirkan bagaimana caranya agar selama Bahar di Surabaya nanti komunikasi kami tak terputus. Kontak melalui surat menurutku terlalu makan waktu dan bukan pilihan yang baik. Sedangkan hubungan melalui telepon sulit dilakukan karena pondokanku di Sangir tak ada fasilitas telepon. Musti pergi ke dekat pelabuhan dulu untuk bisa menelpon. Itupun dengan memakai fasilitas (tepatnya meminjam dan bayar) telepon milik kantor sebuah perusahan perkapalan. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia