Tradingan.com - Kami masuk ke dalam air dan mengambil posisi agar punggung kami kejatuhan air. Huh! Enaknya dipijat dengan curahan air terjun buatan ini. Kupejamkan mata menikmati itu. Kelelahan bekerja beberapa hari lalu terasa luruh. Tanpa kusadari, sudah ada cowok di sampingku. Tangannya menyenggol barangku yang sedang mengecil karena kedinginan.
“Sendirian ya?” tanyanya.
Aku lihat Ganda dan Dana sudah tidak ada di sekitarku. Tapi cepat dapat kulihat, mereka sedang berenang di tengah kolam.
“Nggak. Sama teman,” jawabku. Aku jaga sikap agar berkesan tidak terlalu akrab.
“Itu mereka,” kataku lagi sambil melambaikan tangan pada Dana yang sedang menuju ke arahku.
Cowok yang disampingku tersenyum saja. Sebenarnya dia mau melanjutkan percakapan, tapi segera aku tinggalkan dan berenang ke arah Dana.
“Ada apa?” tanya Dana.
“Nggak apa-apa,” jawabku berusaha tenang. Sebenarnya aku agak segan kalau disapa cowok dalam situasi seperti sekarang.
Rasanya mereka mau memperkosaku saja. Dan lagi dia bukan cowok typeku. Hih!
Kulihat Ran sudah masuk kolam dan bergurau dengan cowok yang tadi menyapaku. Entah apa yang mereka percakapkan. Aku berenang menjauhi air terjun dan bersandar di pinggir kolam, memperhatikan mereka yang sedang asyik bermain air di sana.
Kulihat sekeliling, yang berenang sudah mulai berkurang. Langit sudah mulai gelap. Aku permainkan kakiku di air. Bima jadi datang nggak ya? tanyaku dalam hati. Kulihat ke arah pintu masuk. Tidak ada tanda-tanda Bima telah datang. Yang kulihat malah banyak yang akan keluar pulang.
Aku keluar air dan berjalan menuju kolam arus. Deg! Ketika aku sudah turun ke air, kulihat cowok bermata indah yang kulihat waktu baru datang tadi telah berada di sampingku. Aku kaget sekali. Sangat kaget.
“Kamu mengagetkanku,” kataku sambil menarik nafas, menenangkan diri. Kusapu mukaku dengan tanganku yang menampung air. Kuulangi lagi, sampai kesadaranku pulih dari kaget tadi.
“Maaf,” katanya. Dia tersenyum. Manis. Aku suka wajah manisnya, apalagi dadanya yang tidak begitu padat, tapi kulihat indah saja. Dia pake celana renang pendek warna merah. Dapat kulihat tonjolan kontolnya. Hm, boleh juga nih..
“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan dari rasa bersalahnya. Kusodorkan tanganku. Dia menyambutnya. Tangannya dingin dan berkerut. Mungkin karena lama terendam air.
“Elang,” katanya menyebut namanya. Kusebut juga namaku.
“Namamu bagus,” kataku. Dia tersenyum lagi, meperlihatkan giginya yang rapi. Tapi sorot matanya terasa redup. Sepertinya dia punya masalah.
Kualihkan percakapan, mengomentari situasi kolam yang sudah mulai sepi. Dia juga mengatakan datang bersama teman ceweknya ketika kutanya dia datang bersama siapa.
“Mana ceweknya sekarang?” tanyaku melihat kesendiriannya.
“Sudah naik tadi, ke kamar bilas. Tadi juga sudah mengajak pulang,” jelas Elang.”Tapi tadi aku melihat kamu, jadi kutunggu.”
Ooo, begitu ya. Berarti aku sudah ditunggu dari tadi. Lama juga dia mau menungguku, aku membatin.
Kemudian dia cerita tentang dirinya yang masih kuliah dan tinggal disekitar Sunter. Ada nada aneh yang kurasakan ketika dia bercerita tentang dirinya dan teman ceweknya. Tapi aku tidak tahu apa. Sudah sore, dan lampu penerangan pun sudah nyala. Kuperhatikan di daerah air terjun masih ada orang yang sedang bermain disana. Tidak jelas apa yang mereka lakukan.
Lanjut baca!