Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Ngentot Anus dan Tetek Jumbo di Ancol 2

 Tradingan.com - Kami masuk ke dalam air dan mengambil posisi agar punggung kami kejatuhan air. Huh! Enaknya dipijat dengan curahan air terjun buatan ini. Kupejamkan mata menikmati itu. Kelelahan bekerja beberapa hari lalu terasa luruh. Tanpa kusadari, sudah ada cowok di sampingku. Tangannya menyenggol barangku yang sedang mengecil karena kedinginan.


“Sendirian ya?” tanyanya.
Aku lihat Ganda dan Dana sudah tidak ada di sekitarku. Tapi cepat dapat kulihat, mereka sedang berenang di tengah kolam.
“Nggak. Sama teman,” jawabku. Aku jaga sikap agar berkesan tidak terlalu akrab.
“Itu mereka,” kataku lagi sambil melambaikan tangan pada Dana yang sedang menuju ke arahku.
Cowok yang disampingku tersenyum saja. Sebenarnya dia mau melanjutkan percakapan, tapi segera aku tinggalkan dan berenang ke arah Dana.
“Ada apa?” tanya Dana.
“Nggak apa-apa,” jawabku berusaha tenang. Sebenarnya aku agak segan kalau disapa cowok dalam situasi seperti sekarang.
Rasanya mereka mau memperkosaku saja. Dan lagi dia bukan cowok typeku. Hih!
Kulihat Ran sudah masuk kolam dan bergurau dengan cowok yang tadi menyapaku. Entah apa yang mereka percakapkan. Aku berenang menjauhi air terjun dan bersandar di pinggir kolam, memperhatikan mereka yang sedang asyik bermain air di sana.
Kulihat sekeliling, yang berenang sudah mulai berkurang. Langit sudah mulai gelap. Aku permainkan kakiku di air. Bima jadi datang nggak ya? tanyaku dalam hati. Kulihat ke arah pintu masuk. Tidak ada tanda-tanda Bima telah datang. Yang kulihat malah banyak yang akan keluar pulang.
Aku keluar air dan berjalan menuju kolam arus. Deg! Ketika aku sudah turun ke air, kulihat cowok bermata indah yang kulihat waktu baru datang tadi telah berada di sampingku. Aku kaget sekali. Sangat kaget.
“Kamu mengagetkanku,” kataku sambil menarik nafas, menenangkan diri. Kusapu mukaku dengan tanganku yang menampung air. Kuulangi lagi, sampai kesadaranku pulih dari kaget tadi.
“Maaf,” katanya. Dia tersenyum. Manis. Aku suka wajah manisnya, apalagi dadanya yang tidak begitu padat, tapi kulihat indah saja. Dia pake celana renang pendek warna merah. Dapat kulihat tonjolan kontolnya. Hm, boleh juga nih..
“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan dari rasa bersalahnya. Kusodorkan tanganku. Dia menyambutnya. Tangannya dingin dan berkerut. Mungkin karena lama terendam air.
“Elang,” katanya menyebut namanya. Kusebut juga namaku.
“Namamu bagus,” kataku. Dia tersenyum lagi, meperlihatkan giginya yang rapi. Tapi sorot matanya terasa redup. Sepertinya dia punya masalah.




Kualihkan percakapan, mengomentari situasi kolam yang sudah mulai sepi. Dia juga mengatakan datang bersama teman ceweknya ketika kutanya dia datang bersama siapa.
“Mana ceweknya sekarang?” tanyaku melihat kesendiriannya.
“Sudah naik tadi, ke kamar bilas. Tadi juga sudah mengajak pulang,” jelas Elang.”Tapi tadi aku melihat kamu, jadi kutunggu.”
Ooo, begitu ya. Berarti aku sudah ditunggu dari tadi. Lama juga dia mau menungguku, aku membatin.
Kemudian dia cerita tentang dirinya yang masih kuliah dan tinggal disekitar Sunter. Ada nada aneh yang kurasakan ketika dia bercerita tentang dirinya dan teman ceweknya. Tapi aku tidak tahu apa. Sudah sore, dan lampu penerangan pun sudah nyala. Kuperhatikan di daerah air terjun masih ada orang yang sedang bermain disana. Tidak jelas apa yang mereka lakukan. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Ngentot Anus dan Tetek Jumbo di Ancol 1

 Biodataviral.com -- Proyekku selesai dengan sukses. Bu Ayu mengirimkan SMSnya untuk menyampaikan terima kasihnya atas apa yang kukerjakan untuk perusahaannya. Bu Poppy memberiku bonus dengan mentransfer uang ke tabunganku. Aku belum mengecek berapa nilainya. Tapi penghargaan yang diberikan mereka sudah cukup menyenangkan. Saat sekarang sedang ada pendekatan untuk pekerjaan graphic design sebuah hotel baru di sekitar Senen. Hm, semoga berhasil!


“Mau ikut renang ke Ancol?” tulis SMS Ran di HPku.
Hari Sabtu tanpa kegiatan yang penting, aku hanya bersantai di kamarku sambil membaca dan menonton TV. Tawaran yang bagus! batinku. Aku membalas SMS Ran, menerima tawarannya dan menanyakan kapan ke Ancolnya. Tidak lama, Ran membalasnya dan mengatakan siang ini kita berangkat. Wuih! asyik banget.
“Se7” tulisku singkat membalas SMS Ran. Tidak lama, Ganda yang kirim SMS yang mengatakan aku ditunggu di tempatnya.
Renang! Sudah lama aku tidak berenang. Aku memang tidak terlalu sering berenang. Sewaktu kuliah pun dapat dihitung berapa kali aku berenang. Kukenakan sepatu ketsku dan segera keluar berjalan menuju rumah Ran. Aku tak mau mereka menungguku terlalu lama. Kami memang jadi berteman akrab, mungkin karena usia kami yang tak jauh berbeda. Apalagi, tampilanku sehari-hari masih dapat dianggap seperti mahasiswa. Hm, GR nih.
Benar saja, Ganda, Ran dan Dana sudah menungguku di depan rumah mereka.
“Hampir mau disusul,” kata Ran.
Penampilan mereka pada santai sekali. Ran pake celana pendek gombrong dan kaos singlet yang memperlihatkan bahunya yang indah. Dia pake sepatu kainnya warna biru tua, tanpa kaos kaki. Ganda pakai sepatu sandal dengan kaos oblong dan celana jeans lusuhnya. Sedang Dana dengan kemeja katun dan celana pendek jeansnya. Dia pake sepatu kets dengan kaos kaki. Dia tampil agak rapi dibanding yang lainnya. Ada ransel yang di sandangnya.
Dalam perjalanan keluar gang menuju jalan besar, Ran menjelaskan kalau Ganda dapat tiket gratis renang untuk lima orang. Dan berlakunya sampai hari ini. Makanya kesannya jadi mendadak. Aku maklum saja.
“Kita makan dulu ya,” kata Dana ketika telah didalam taksi yang membawa kami.
Dia duduk di depan. Aku duduk dibelakang di antara Ganda dan Ran. Aku rasakan siku tangan Ran menekan di perut bawahku. Entah sengaja atau tidak. Tapi ketika aku diam saja, sikunya makin turun ke gundukan kontolku yang sedikit menegang.
Ganda kulihat sedang memperhatikan kesibukan jalan raya di luar. Sekarang dapat kurasakan siku Ran mempermainkan kontolku dibalik celanaku dengan menggesekkannya berulang-ulang, seirama goyangan taxi. Aku kerutkan anusku, sehingga darah ke kontolku mengalir menekan dinding kontolku untuk membesar. Getaran nikmat menjalar keseluruh tubuhku.
Mungkin dia kangen dengan kontolku, batinku. Kontolku sudah menegang dan terasa sesak di celana jeansku. Lengan kanan Ran yang telanjang di dadaku, merangsang pentil dadaku. Ah, Ran tetap saja selalu menggoda. Mataku dan mata Ran bertemu. Dia tersenyum melihatku yang sedang menikmati mainan kecilnya. Tanganku bergerak di pahanya, dan mempermainkan jariku di pahanya yang tersingkap. Aku memberi respon apa yang dilakukannya. Ah.. Jantungku memompa agak kencang. Ingin kuteruskan tanganku bergerak ke kontolnya, tapi..




Aku berusaha bersikap biasa ketika, pandangan Ganda ke arah kami. Jantungku berdegup. Fantasiku mulai lagi.. Dengan sedikit menunduk, dapat aku rasakan kulit bahu Ran di bibirku. Ingin aku menggigit pelan bahu yang kencang itu, tapi.. Aku takut ketahuan Ganda. Walau bagaimana pun, aku mesti jaga sikap juga. Tapi akhirnya dapat juga sikuku menekan selangkangannya. Kurasakan batangnya yang sudah mengeras di ujung sikuku. Sedikit kutekan, malah jadi melenceng ke pahanya. Keras banget. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Gairah Tante Vivi Saat di Anal Seks 3

 Iklans.com - Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat kulihat begitu sangar dan vulgar.


oohh.., tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan miliknya.

Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi dihadapanku dan membuatku takjub.
oohh.., Vivi..”, bisikku lemah. Batinku seolah menyerah kalah., “Maafkan aku Selva.., aku sangat mencintaimu.., tapi ini hanyalah seks.., bukan cinta..”

Lalu kreekk.., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.
“Vivii..”, bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona, lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.


“Ar.., beri aku kenikmatan..”, bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.
“Aahh Vivi.., aku akan memberimu kepuasan.., aahh.., kau lihat penisku Vi.., dia yang akan memberimu kenikmatan..”, bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking kuat ereksinya.
“Iihh.., hik.., hik.., kau nakal Ar.., oohh.., sshh.., lakukanlah sekarang Ar..”, tiba-tiba ia berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.
“Sekarang Tante..?”, tanyaku heran, sedikit kurang sambung.
“Yaa.., sekarang Ar.., naiki aku.., masuki tubuhku sekarang.., sshh..”, bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak untuk.. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Gairah Tante Vivi Saat di Anal Seks 2

 Tradingan.com - Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.


“Sudah malem Tante.., besok-besok khan masih bisa belajar Tante.., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante..”, kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
“Iya deh.., waah.., makasih ya Ar.., kamu pinter sekali mm.., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar.., hik.., hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.
“aah.., Tante ini ada-ada aja.., sudah deh.., sudah malem Tante..”, jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa..”, Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear.., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.

“Aduuh.., Ar.., ada apa sih kamu..”, pekiknya.
“Anuu Tante.., laba-laba gedhe..”, sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.

“Ar..”, bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka.., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya.., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran.., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya.., terasa manis.


Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka..
” ooh..”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Gairah Tante Vivi Saat di Anal Seks 1

 Biodataviral.com - Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.

9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.
“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.
“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..
“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.
“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.
“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.
“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.


“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Ada Apa Dengan Cinta Amalia Mutya 2

 Tradingan.com - Hari yang sangat berarti dalam hidupku, kami MENIKAH. Tidak ada orang yang menyaksikan, tidak ada resepsi, tidak ada tamu, keluarga, saudara, teman yang yang hadir, hanya aku, Rio dan penghulu. Rio memberiku cincin 10 gr dan seperangkat alat sholat. Kami hanya melakukan ijab qabul dan kamipun resmi menjadi suami istri.


Hari2ku bersama suami tercinta begitu sangat indah saat itu, ia membuatku sangat bahagia. Setiap hari ia menjemputku kekampus, pergi membeli perlengkapan bayi, periksa kehamilan ke RS, dia menemaniku dengan penuh cinta kasih dan kesabaran yang mendalam. Tidak terasa 10 hari aku bersamanya, diapun harus kembali ke Jakarta. Kembali kami dipisahkan, sangat berat rasanya bagi kami untuk berpisah tapi keadaan saat itu yang mengharuskan kami untuk saling berjauhan. Rio-ku berjanji untuk selalu mengunjungiku setiap bulan untuk menengok keadaanku dan menemaniku ke RS untuk memeriksa kehamilan. Walaupun sangat berat, aku harus melepaskan kepulangan Rio-ku.
Kembali aku sendiri. Kujalani aktifitasku seperti biasa. Semakin hari perutku semakin membesar yang membuatku membatasi kegiatanku karena aku merasa cepat lelah.

November’98 kehamilanku memasuki bulan ke7.
Bulan yang sangat berat buatku. Kembali aku dihadapkan dengan satu masalah yang sangat sulit aku pecahkan & sangat sulit dicari jalan keluarnya. Aku dihadapkan dengan jatuhnya liburan kuliah yang bertepatan dengan akan menikahnya kakakku. Tidak ada alasanku untuk tidak pulang ke Jakarta. Sedangkan kondisiku dengan perut yang sudah besar tidak memungkinkan untuk menemui orang tua dan keluargaku.

Rio kembali ia membuatku tenang, dia datang untuk membuatku tenang, tegar dan tabah. Dengan menggunakan pesawat, akhirnya aku kembali ke Jakarta. Kami langsung menuju Cilegon. Dengan keadaan yang sangat membuatku resah, kami berdua berusaha mencari jalan pemecahannya.

30 November 98.
Kembali aku harus berkorban demi cinta. Bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-20, dan kehamilanku yang ke7 bulan, disalah satu RS di Jakarta aku menjalani oprasi Ceasar. Buah cintakupun lahir, dengan berat 2.95 panjang 48, PEREMPUAN. 6 hari aku dirawat dan akhirnya diperbolehkan pulang.

Aku, Rio dan buah cinta kami tinggal bersama di Cilegon. Tanpa sanak saudara dan keluarga yang mengetahuinya. Hari-hari kami kewati bersama, penuh dengan kebahagiaan. Terpancar dari wajah suami yang sangat aku cintai sinar kebahagiaan yang begitu besar. “ANDALUSIA” ya itulah nama indah yang diberikan Rio buat buah cinta kami, nama yang begitu indah dan penuh pengharapan.



Desember’98.
Kakakku menikah, aku dan Rio kembali ke Jakarta untuk menghadiri resepsi. Anak kami tinggal bersama pengasuhnya. Ketika aku menemui orang tuaku, aku dan Rio berakting seakan-akan baru datang dari Semarang dan akting kami pun berhasil. Dengan berbagai alasan, ku curi-curi waktu untuk dapat mengunjungi dan melihat anakku. Walau tidak lama aku dapat melihatnya tapi buatku itu sudah lebih daripada cukup. Saat hari raya tiba, aku dan Rio seperti main kucing-kucingan dari kelurga kami, kami saling bergantian menjaga Cia (nama panggilan anak kami). Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Ada Apa Dengan Cinta Amalia Mutya 1

 Aopok.com - Cinta kadang mendatangkan kebahagiaan & keindahan yang tiada tara, namun kadang semua itu harus berakhir dengan air mata & kesedihan yang amat mendalam. Kekuatan cinta dapat mengubah kehidupan seseorang berbalik 180 derajat, dapat menghipnotis hingga kita bisa lupa akan segala2nya, dengan kekuatan cinta pula seseorang mampu melakukan apa saja demi orang yang sangat dicintai. Kisah ini bukanlah karangan dari khayalan nafsu & sex semata, melainkan kisah yang memang benar-benar aku alami, aku akan berbagi pengalaman agar siapapun yang membacanya dapat mengambil hikmah dari kisahku ini, jangan sampai kejadian yang seperti aku alami ini terulang kembali.


Namaku Amelia, usia 23 thn, aku seorang karyawati sebuah perusahaan kontraktor asing dibilangan Jakarta. Berawal ketika aku duduk dibangku kls 3 disalah satu SMU Swasta di Jakarta.

Januari ’98,
Sepulang sekolah, aku dan 2 sahabatku Dian & Gita berencana untuk jalan-jalan di Pondok Indah Mall sekedar window shopping & ngeceng, yaah maklum deh namanya juga ABG, lagi ganjen-ganjen & rajin-rajinnya cari perhatiaan sama yang namanya cowok. Setelah ganti baju, kitapun berangkat dengan menggunakan BMWnya Gita, dia yang paling cantik dan tajir diantara kita b’2. Setelah puas puter-puter, kitapun makan di Olala caf, tempat yang tidak akan pernah aku lupakan. Sedang asik-asiknya kita ngobrol, salah satu pelayang datang menghampiri kami
“Maaf mba mengganggu, eem..mas-mas yang duduk dibelakang nitip salam tuh, ini ada es cream untuk mba b’3 dari mereka”
Spontan kami b’3 menoleh kearah cowok yang ditunjuk pelayan. Woow..ternyata 2 cowok yang ganteng, keren dan sungguh rapi,
“Psst, boleh juga tuh! Kayanya sih udah pada gawe tuh cowo” Gita dengan pelan memberi komentar tentang kedua cowok itu.

Singkat cerita kitapun berkenalan dan saling bertukar cerita. Rio dan Iqbal, ya itulah nama kedua cowok itu, mereka bekerja di salah satu perusahaan Jepang dibilangan Sudirman Jakarta. Rio memeng tidak seganteng Iqbal, tingginya kira-kira 180, badannya tegap, kulitnya bersih dan berkarisma, pokoknya enak dipandang deh. Hampir sejam kita ngobrol, aku dan kedua sahabatku putuskan untuk pulang, setelah saling bertukar no. telp. kitapun berpisah.

Setiba dirumah, aku masih benar-benar tidak bisa melupakan bayangan wajah Rio. Siapa sangka, tepat jam 9 malam telp. rumahku berdering, bergegas kuangkat,
“Selamat malam, bisa bicara dengan Amelia?” dengan cepat kujawab
“Ya malam, ini aku sendiri, siapa ya?”
“Rio”
Teeng..jantungku tiba-tiba berdetak kencang, aku sama sekali tidak menyangka kalau dia bakalan telp. Seneng, gembira, yaah pokoknya hapy banget deh. Kitapun ngobrol panjang lebar, nggak terasa 3 jam kami ngobrol. Dari situ aku ketahui kalau dia itu orang Bandung, S1 di Unpad Bandung, S2 di Jepang dan tinggal di Cilegon.



Sabtu, selesai jam sekolah, seperti biasa aku nggak langsung keluar kelas melainkan ngobrol dengan teman-teman kelasku, tiba-tiba HPku bunyi, kulihat dari layar ‘RIO” lagi nama itu membuat aku senang, bergegas kuangkat
“Hai mel, sudah pulang belum? Aku ada digerbang sekolah kamu nih”.
GERBANG, belum lagi kujawab, buru-buru aku keluar kelas dan kutengok kegerbang, yaa..RIO, dia duduk didalam mobil Taft hitam, tangannya masih memegang HP,
“Hai, aku ada diatas” sambil melambaikan tangan memberi kode keberadaanku, dia pun menoleh kearahku tersenyum menatapku.
Aku tanpa sadar loncat-loncat kegirangan, Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Ada Apa Dengan Anal Cintaku

 Tradingan.com - Pagi itu sangat dingin, tapi aku memaksakan diri untuk membuka mataku walaupun sebenarnya ingin tinggal di tempat tidur di bawah selimut yang tebal.

“Aku harus bangun!” hanya itu yang berada di pikiranku sekarang,
Sehingga akupun bangkit berdiri menuju ke kamar mandi. Keadaan memang cepat berubah, sebulan yang lalu aku masih tinggal bersama mama dan papa tiriku, sekarang aku tinggal seorang diri. Dan secara otomatis aku harus mencari biaya hidup sendiri, karena aku tidak mau membebani mama dengan biaya hidupku. Untung aku cepat mendapat pekerjaan yang layak, yang mampu menghidupiku di kota yang cukup mahal ini. Sebuah perusahaan webdesign membutuhkanku sebagai assisten dalam bidang keuangan dan pemasaran.

Hujan rintik-rintik menemaniku memasuki fairground Cebit, salah satu pameran komputer terbesar di dunia yang berlangsung di Hannover. Perusahaan di mana aku bekerja menjadi salah satu pemilik stand di pameran ini. Untuk sementara aku tinggal di sebuah hotel yang lumayan besar di hannover zentrum.

Setelah aku memarkir mobilku dan mulai melangkah ke pintu masuk, aku mendengar suara yang tidak asing. Yah, beberapa orang bertampang Asia sedang berbicara Indonesia. Tidak aku sangka bahwa aku bakal bertemu orang Indonesia di pameran ini, dan hal itu terjadi di hari pertama. Sekilas aku mendengar bahwa mereka sedang membicarakan aku. Seorang yang berdasi biru berkata ke temannya, “wah yang ini pasti blasteran”. Dan mereka pun hanya bisa menebak-nebak sambil berbisik. Aku hanya tersenyum, sampai di depan pintu masuk salah satu dari mereka membiarkan aku masuk terlebih dahulu dan secara spontan aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia. Lama dia terdiam, sampai dia akhirnya mengejarku sambil meminta maaf, dan bermaksud meminta nomor teleponku. Dengan tertawa aku berkata bahwa aku tidak marah, karena tidak ada alasan untuk itu. Tetapi aku tidak memberikan langsung nomor teleponku, aku hanya memberitahu bahwa aku bekerja di salah satu stand di salah satu hall. Hanya sampai di situ pertemuanku dengannya karena aku harus cepat menuju standku.

Kesibukan Cebit yang luar biasa membuatku melupakannya, hingga tiba saat makan siang ketika pintu kantorku diketuk oleh seorang hostes yang bekerja di stand kami yang mengatakan bahwa ada seorang pria yang hendak bertemu denganku. Dengan sedikit heran aku mempersilakan masuk dan ternyata pria Indonesia tadi pagi. Dia mengulurkan tangan kanannya sambil berkata,
“Andre”
Dan saya pun menjawab,
“Lia.”
Dia mengajakku untuk makan siang bersama yang langsung kutolak karena banyaknya pekerjaan yang menungguku. Dan diapun mengerti keadaanku. Tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa 2 kantong kertas yang berisi makanan. Dia masuk ke kantor dan memberikannya kepadaku sembari berkata bahwa aku harus makan. Saat itu hatiku trenyuh, apalagi setelah sekian lama tidak ada orang yang memperhatikanku, akhirnya aku menyuruh dia tinggal untuk makan bersamaku di kantorku. Sekitar 1 jam kami berbincang bincang, dia kembali bertanya tentang nomor teleponku yang akhirnya aku berikan kepadanya. Dia berjanji akan menelponku nanti malam setelah pameran tutup.

Setelah pameran hari pertama berakhir, kami berjanji untuk makan bersama di salah satu restoran di kota. Aku sempat kembali di hotel untuk mandi dan sedikit berdandan. Sekitar jam delapan malam, pintu kamarku diketuk dengan pelan. Aku pun membuka pintu itu dan Andre sudah berdiri di depan pintu. Di lobby menunggu 3 teman Andre lainnya. Di restoran kami banyak berbincang bincang, mengenai bisnis dan segala macam. 



Dari situ akhirnya aku tahu bahwa dia seorang atasan di sebuah kantor di Taiwan dan 3 orang temannya adalah bawahannya. Mereka sangat menyenangkan dan senang bercanda. Waktu berakhir terlalu cepat, sampai tiba waktunya untuk kembali di hotel. Andre mengantar teman-temannya terlebih dahulu sebelum dia mengantarku sampai depan pintu kamar. Sebelum aku masuk ke kamar dia memegang tanganku dan berkata,
“Lia kamu malam ini terlihat cantik sekali.”
Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan memberikan sebuah ciuman di pipinya sebagai ucapan selamat malam. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Istri Minta Jatah Ngewe Anal 2

 Topoin.com - Tibalah saat perpisahan kami.. Terbanglah kekasihku, bisikku dalam hati. Terbanglah dan nikmati perjalanan dan tugas-tugasmu. Aku akan selalu merindukanmu..

Kami segera segera berdiri, berhadapan. Saling menatap dan tersenyum. Kuhela nafasku menetralisir degupan dada yang makin kencang. Bahar lalu memelukku sampai dua kali. Dan aku sempat membisikkan kata-kata kepadanya.

“Aku juga sayang Mas Harso” bisiknya sebelum akhirnya menuju pintu keberangkatan.


Tangannya terus melambai bahkan ketika sudah berada di tangga pesawat. Bagaimana pun, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku begitu suara pesawat terbang itu pelan-pelan menghilang ditelan awan.. Angin laut Sulawesi menyadarkanku dari lamunan.

Aku kini berada di atas kapal yang sama dengan kapal kemarin yang membawaku dari Sangir ke Manado. Selama pelayaran kuhabiskan waktu dengan membaca koran dan majalah yang tadi sempat kubeli di bandara. Beberapa menit rasa kantuk sempat membuatku tertidur berbantal pokok kayu di belakang kepala.

Aku tak ingat lagi mimpi apa yang aku alami selama aku tertidur di atas kapal itu. Sampai ketika satu dua suara camar mulai terdengar sayup-sayup. Tampaknya sudah mendekati pelabuhan tujuan. Aku segera bersiap-siap dan bangun berdiri menuju haluan. Beberapa penumpang juga sudah bersiap-siap untuk turun. Sekian kilometer di depan kapal sudah tampak bayangan pulau yang menjadi tujuan.

Begitu jangkar dibuka, beberapa pekerja pelabuhan langsung berlompatan ke atas kapal. Ada beberapa yang masih berusia remaja, bahkan anak-anak. Tapi selebihnya adalah pekerja dewasa. Rata-rata bertubuh kekar. Dan beberapa di antaranya mempunyai wajah khas Sangir Talaud. Oh, tiba-tiba ingatanku jadi melayang ke Bahar..



Aku sampai di pondokan sekitar jam lima sore. Langsung mandi dan istirahat santai hingga menjelang malam. Beberapa perlengkapan mulai kupersiapkan untuk rencana pengolahan dataku di Manado nanti dan juga persiapan buat rencanaku besok untuk menyelesaikan sisa pengamatan di dekat pelabuhan yang mungkin akan memakan waktu dua tiga hari.

Malam itu aku agak sulit tidur. Terus terang pikiranku dipenuhi oleh bayangan Bahar. Rasa kangen muncul semakin kuat. Padahal, selama ini kami juga tidak setiap hari ketemu. Tapi perpisahan kali ini.. Surabaya.. Dua bulan.. Galangan kapal.. Dua bulan.. Manado.. Akhirnya aku tertidur juga.. Waktu berlalu.. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

Viral Istri Minta Jatah Ngewe Anal 1

 Tradingan.com - Bandara Sam Ratulangi, Senin siang, 11.09 WITA

Jadwal keberangkatan Bahar ke Surabaya akan menjelang beberapa jam lagi. Kesibukan di Bandara belum begitu padat, hanya beberapa orang petugas porter yang tampak bergerombol di beberapa sudut kedatangan, merayu para calon penumpang untuk dibantu membawakan barang bawaan. Tapi tampaknya mereka tak berani mendekati kami. Barangkali mereka segan pada kami yang punya potongan tubuh lumayan gede ini. Apalagi saat itu, menurut Bahar aku kelihatan ‘sangar’ dengan kacamata rayban. Sedangkan Bahar tampak gagah dan agak ‘preman’ dengan setelan sportifnya: baju kotak-kotak plus blue jeans.


Bahar segera check in. Sementara aku mengurus barang bawaan yang akan dibagasikan. Ada dua kopor berukuran sedang dan satu travel bag yang dibawanya. Tanpa setahu dia, aku menyelipkan fotoku dan foto kami berdua di salah satu kantong yang ada di kopor pakaiannya.

Mungkin karena Bahar termasuk calon penumpang yang datang lebih awal, maka pelayanan bisa lebih singkat diselesaikan. Kebetulan aku diijinkan petugas bandara untuk masuk ke ruang tunggu. Mungkin karena hari ini sedang tidak terlalu banyak penumpang. Ruang tunggu pun terlihat masih sepi. Dan kami bisa bebas mau duduk di mana saja. Tapi Bahar mengajakku memilih kursi yang agak terpisah dari yang lain.

Untuk beberapa saat kami tak banyak bicara. Tenggelam dalam lamunan masing-masing dan sesekali memperhatikan kesibukan petugas bandara yang ada di landasan. Pesawat dari Ujung Pandang yang akan membawa Bahar ke Surabaya belum tampak terlihat.

Dia lalu mengeluarkan bungkus rokoknya, tapi aku mengingatkan larangan merokok di ruang tunggu ini. Disimpannya kembali bungkus rokok itu ke kantong bajunya. Nampak sekali dia sedang nervous. Kupegang tangannya. Dingin. Lalu tangannya membalas menggenggam tanganku. Menghela nafas dan mencoba tersenyum.

“Abang mau merokok? Ayo, aku antar keluar” kataku menawarkan. Tapi dia menggeleng dan malah mengembangkan senyuman tipis. Genggaman tangannya kurasakan makin erat.

Aku mencoba menenangkannya. Dia mengangguk-angguk dan mencoba tersenyum lagi. Tapi senyum itu kelihatan dipaksakan. Bahar menghela nafas.

“.. Barangkali saya terlalu berat untuk berjauhan dengan Mas Harso..,” kalimat terakhirnya terdengar agak lirih.



Kini tiba-tiba gantian aku yang senewen mendengar ucapannya itu. Mataku berkejap-kejap, agak panas. Terus terang, sebenarnya selama dua hari terakhir ini aku secara diam-diam terus memikirkan bagaimana caranya agar selama Bahar di Surabaya nanti komunikasi kami tak terputus. Kontak melalui surat menurutku terlalu makan waktu dan bukan pilihan yang baik. Sedangkan hubungan melalui telepon sulit dilakukan karena pondokanku di Sangir tak ada fasilitas telepon. Musti pergi ke dekat pelabuhan dulu untuk bisa menelpon. Itupun dengan memakai fasilitas (tepatnya meminjam dan bayar) telepon milik kantor sebuah perusahan perkapalan. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia